HADITS DHA’IF (LEMAH) & MAUDHU’ (PALSU); PENJELASAN & CONTOH-CONTOHNYA

Published October 21, 2011 by vianathesalafi

HADITS-HADITS DHA’IF DAN MAUDHU’

Hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam ada yang shahih, hasan, dha’if (lemah), dan maudhu’ (palsu).

Dalam kitab haditsnya, Imam Muslim menyebutkan di awal kitab sesuatu yang memperingatkan tentang hadits dha’if, memilih judul: “Bab larangan menyampaikan hadits dari setiap apa yang didengar.” Berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam,

“Cukuplah seseorang sebagai pendusta, jika ia menyampaikan hadits dari setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim, menyebutkan: “Bab larangan meriwayatkan dari orang-orang dha’if (lemah).” Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam,

“Kelak akan ada di akhir zaman segolongan manusia dari umatku yang menceritakan hadits kepadamu apa yang kamu tidak pernah mendengarnya, tidak juga nenek moyang kamu, maka waspadalah dan jauhilah mereka.” (HR. Muslim)

Imam lbnu Hibban dalam kitab Shahih-nya menyebutkan: “Pasal; Peringatan terhadap wajibnya masuk Neraka orang yang menisbatkan sesuatu kepada Al-Mushthafa (Muhammad), sedangkan dia tidak mengetahui kebenarannya.” Selanjutnya beliau menyebutkan dasarnya, yaitu sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam,

“Barangsiapa berbohong atasku (dengan mengatakan) sesuatu yang tidak aku katakan, maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di Neraka.” (HR. Ahmad, hadits hasan)

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam memperingatkan dari hadits-hadits maudhu’ (palsu), dengan sabdanya,

“Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di Neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

Tetapi sungguh amat disayangkan, kita banyak mendengar dari para syaikh hadits-hadits maudhu’ dan dha’if untuk menguatkan madzhab dan kepercayaan mereka. Di antaranya seperti hadits,

“Perbedaan (pendapat) di kalangan umatku adalah rahmat.”

Al-Allamah lbnu Hazm berkata, “ltu bukan hadits, bahkan ia hadits batil dan dusta, sebab jika perbedaan pendapat (khilafiyah) adalah rahmat, niscaya kesepakatan (ittifaq ) adalah sesuatu yang dibenci. Hal yang tak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.”

Termasuk hadits makdzub (dusta) adalah:

“Belajarlah (ilmu) sihir, tetapi jangan mengamalkannya.”

“Seandainya salah seorang di antara kamu mempercayai (meski) terhadap sebongkah batu, niscaya akan bermanfaat baginya.”

Dan masih panjang lagi deretan hadits-hadits maudhu’ lainnya.

Adapun hadits yang kini banyak beredar:

“Jauhkanlah masjidku dari anak-anak kecil dan orang-orang gila.”

Menurut Ibnu Hajar adalah hadits dha’if, lemah. Ibnu Al-Jauzi berkata, hadits itu tidak shahih. Sedang Abdul Haq mengomentari sebagai hadits yang tidak ada sumber asalnya.

Penolakan terhadap hadits tersebut lebih dikuatkan lagi oleh ada-nya hadits shahih dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam :

“Ajarilah anak-anakmu shalat, saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya, ketika mereka berusia sepuluh tahun.” (HR. Ahmad, hadits shahih)

Mengajar shalat tersebut dilakukan di dalam masjid, sebagaimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengajar para sahabatnya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajar dari atas mimbar, sedang anak-anak ketika itu berada di masjid Rasul, bahkan hingga mereka yang belum mencapai baligh.

Tidak cukup pada akhir setiap hadits kita mengatakan, “Hadits riwayat At-Tirmidzi” atau lainnya. Sebab kadang-kadang, beliau juga meriwayatkan hadits-hadits yang tidak shahih . Karena itu, kita harus menyebutkan derajat hadits: shahih, hasan atau dha’if. Adapun meng-akhiri hadits dengan mengatakan, “Hadits riwayat Al-Bukhari atau Muslim” maka hal itu cukup. Karena hadits-hadits yang diriwayatkan oleh kedua imam tersebut senantiasa shahih.

Hadits dha’if tidak dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam , karena adanya cacat dalam sanad (jalan periwayatan) atau matan (isi hadits).

Jika salah seorang dari kita pergi ke pasar, lalu melihat daging yang gemuk segar dan daging yang kurus lagi kering, tentu ia akan memilih yang gemuk segar dan meninggalkan daging yang kurus lagi kering.

Islam memerintahkan agar dalam berkurban kita memilih binatang sembelihan yang gemuk dan meninggalkan yang kurus. Jika demikian, bagaimana mungkin diperbolehkan mengambil hadits dha’if dalam masalah agama, apalagi masih ada hadits yang shahih…?

Para ulama hadits memberi ketentuan, bahwa hadist dha’if tidak boleh dikatakan dengan lafazh: Qoola Rasuulullaahi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda), karena lafazh itu adalah untuk hadits shahih. Tetapi hadits dha’if itu harus diucapkan dengan lafazh “ruwiya” (diriwayatkan), dengan shighat majhul (tidak diketahui dari siapa). Hal itu untuk membedakan antara hadits dha’if dengan hadits shahih.

Sebagian ulama kontemporer berpendapat, hadits dha’if itu boleh diambil dan diamalkan, tetapi harus memenuhi kriteria berikut:

Hadits itu menyangkut masalah fadha’ilul a’maal (keutamaan-keutamaan amalan)
Hendaknya berada di bawah pengertian hadits shahih.
Hadits itu tidak terlalu amat lemah (dha’if).
Hendaknya tidak mempercayai ketika mengamalkan, bahwa hadits itu berasal dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam .

Tetapi, saat ini orang-orang tak lagi mematuhi batasan syarat-syarat tersebut, kecuali sebagian kecil dari mereka.

CONTOH HADITS MAUDHU’

Hadits maudhu‘ (palsu):“Sesungguhnya Allah menggenggam segenggam dari cahaya-Nya, lalu berfirman kepadanya, ‘Jadilah Muhammad’.”
Hadits maudhu‘:“Wahai Jabir, bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya Nabimu.”
Hadits tidak ada sumber asalnya:“Bertawassullah dengan martabat dan kedudukanku.”
Hadits maudhu‘. Demikian menurut AI-Hafizh Adz-Dzahabi:“Barangsiapa yang menunaikan haji kemudian tidak berziarah kepadaku, maka dia telah bersikap kasar kepadaku.”
Hadits tidak ada sumber asalnya. Demikian menurut Al-Hafizh Al-’lraqi.“Pembicaraan di masjid memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
Hadits maudhu’. Demikian menurut AI-Ashfahani:“Cinta tanah air adalah sebagian daripada iman.”
Hadits maudhu’, tidak ada sumber asalnya:“Berpegang teguhlah kamu dengan agama orang-orang lemah.”
Hadits tidak ada sumber asalnya:“Barangsiapa yang mengetahui dirinya, maka dia telah menge-tahui Tuhannya.”
Hadis tidak ada asal sumbernya:“Aku adalah harta yang tersembunyi.”
Hadits maudhu’:“Ketika Adam melakukan kesalahan, ia berkata, ‘Wahai Tuhan-ku, aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad agar Eng-kau mengampuni padaku.”
Hadits maudhu’:“Semua manusia (dalam keadaan) mati kecuali para ulama. Semua ulama binasa kecuali mereka yang mengamalkan (Ilmunya). Semua orang yang mengamalkan ilmunya tenggelam, kecuali me-reka yang ikhlas. Dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar.”
Hadits maudhu‘. Lihat Silsilatul Ahaadits Adh-Dha’iifah, hadits no. 58:“Para sahabatku laksana bintang-bintang. Siapa pun dari mere-ka yang engkau teladani, niscaya engkau akan mendapat petun-juk.”
Hadits batil. Lihat Silsilatul Ahaadits Adh-Dhaiifah, no. 87:“Jika khatib telah naik mimbar, maka tak ada lagi shalat dan perbincangan.”
Hadits batil. Ibnu AI-Jauzi memasukkannya dalam kelompok hadits-hadits maudhu‘:“Carilah Ilmu meskipun (sampai) di negeri Cina.”

Sumber : File CHM dari Buku Jalan Golongan yang Selamat Karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Bagian 41-42

Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒღ ¸. • ‘¯) ♥

Mengapa Sebagian Ulama Meriwayatkan Hadits yang Dha’if (Lemah) atau Maudhu’ (Palsu)?

Juni 30, 2010 oleh Abu Umamah Tinggalkan sebuah Komentar

Sebagian di antara kita mungkin pernah menemui di beberapa kitab para ulama yang memuat hadits-hadits dla’if bahkan palsu. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi dimana kesemuanya itu dapat terangkum dalam tujuh sebab utama, yaitu :

Beberapa ulama memandang bahwa jika ia meriwayatkan hadits maudlu’ beserta sanadnya, maka mereka terbebas dari tanggung jawab, karena mereka merasa tidak menipu kaum muslimin dan para ulama lainnya. Ia hanyalah menuliskannya untuk mereka sebuah hadits lengkap dengan sanadnya sehingga para penuntut ilmu dapat membahas dan menelitinya hingga mencapai kesimpulan yang diharapkan. Pendapat ini dikutip oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Lisaanul-Miizaan [1] ketika menjelaskan biografi Al-Imam Ath-Thabarani, penulis tiga kitab Mu’jam.

Para ulama yang menuliskan hadits-hadits dla’if atau maudlu’ ini merasa khawatir akan hilangnya sebagian ilmu pengetahuan. Namun tindakannya ini membuat samar sebagian orang yang kemudian menganggapnya sebagai hadits shahih. Mereka menuliskan hadits-hadits ini dalam rangka menjaga semua ilmu yang sampai kepadanya, sekalipun di dalamnya ada cacat, namun hal ini dilakukan dalam rangka agar ia dapat membedakan antara yang buruk dengan yang baik. Keterangan ini dikutip oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah ketika membicarakan beberapa kitab hadits.[2]

Ada yang meriwayatkan hadits-hadits jenis ini dalam rangka memberikan peringatan darinya dan dari kejahatannya. Dengan itu, orang-orang yang membacanya dapat mengetahui hadits-hadits itu adalah dusta yang dibuat-buat, sehingga mereka dapat menghindar dari keburukannya. Hal ini pernah dinyatakan oleh Al-Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya Al-Majruhiin saat menerangkan biografi Jaabir Al-Ju’fi. Ia menyebutkan bahwa Syu’bah pernah meriwayatkan hadits darinya. Ibnu Hibban kemudian menyebutkan bahwa Waki’ pernah menanyakan alasan perbuatan Syu’bah tersebut : “Anda meninggalkan riwayat si Fulan dan si Fulan, lalu kenapa Anda meriwayatkan hadits dari Jaabir Al-Ju’fiy ?”. Syu’bah menjawab :

روى أشياء لم نصبر عنها

“Aku menuliskan riwayat-riwayatnya yang membuat kita tidak sabar terhadapnya (untuk menolaknya dan membuangnya)”.

Muhammad bin Raafi’ pernah melihat Ahmad bin Hanbal duduk di majelis Yazid bin Harun dimana beliau menulis hadits Zuhair dari Jaabir (Al-Ju’fi). Muhammad bin Raafi’ bertanya : “Wahai Abu ‘Abdillah, Anda melarang kami (meriwayatkan) hadits Jaabir , namun ternyata Anda sendiri justru menuliskannya ?”. Maka beliau menjawab : “Kami mengetahui (kedla’ifan) haditsnya”.[3]

Ada beberapa ulama yang meriwayatkan hadits-hadits jenis ini karena rasa fanatik mereka terhadap satu madzhab, dengan tujuan agar hadits-hadits tersebut mendukung madzhab dan pendapat mereka. Terutama, jika madzhab atau pendapatnya tersebut sesuatu yang membuatnya berani atau terlalu gampang dalam meriwayatkan hadits-hadits ini. Rasa fanatik dapat membuat seseorang dihukumi seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Mu’tamir bahwa tidak ada bedanya antara binatang ternak yang ditundukkan dengan manusia yang ikut-ikutan (taqlid).

Ada beberapa orang yang sadar bahwa pendapatnya tersebut salah, lalu ia mendapatkan sebuah hadits palsu yang dapat menopang pendapatnya, kemudian syaithan meng-hijab (menghalangi) dirinya dari cahaya kebenaran sehingga ia berani menjadikan hadits tersebut sebagai hujjah dan pendukung pendapatnya.

Ketidaktahuan akan tingkatan hadits tersebut.

Kadang-kadang seorang ulama meriwayatkan sebuah hadits, namun ia bukan termasuk orang yang memiliki pengetahuan khusus mengenai ilmu hadits. Ia meriwayatkan hadits ini dengan anggapan bahwa hadits tersebut shahih atau ia bertaqlid kepada orang-orang sebelumnya. Hal ini merupakan realitas yang nyata bahwa ada sebagian ulama yang menonjol dalam satu bidang ilmu tertentu, namun ia tidak menonjol di bidang ilmu yang lain. Kenyataan ini berdasarkan kecenderungan masing-masing orang. Maka kita akan menjumpai seorang ahli di bidang ilmu nahwu dan bayan, akan tetapi ia tidak banyak mengetahui ilmu hadits. Sebaliknya, kita menjumpai seseorang yang ahli di bidang ilmu hadits, ia mengenal betul mengenai ilmu ’ilal hadits dan sanad-sanad hadits, akan tetapi sering ditemukan kerancuan dalam kalimat-kalimat yang dilontarkannya.

Al-Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Tadzkiratul-Huffadh memberikan beberapa ungkapan dan contoh yang cukup bagus dalam hal ini. Misalnya saja ketika beliau menerangkan biografi Al-Hulaimi, seorang ulama madzhab Syafi’iyyah dalam hadits yang berbunyi :

لِصَاحِبِ الْقُرْانِ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ خَتْمِهِ

”Seorang yang sering membaca Al-Qur’an memiliki doa mustajab ketika ia mengkhatamkannya”.

Adz-Dzahabi menuturkan bahwa dalam sanad hadits ini terdapat rawi yang bernama Abi ’Ishmah Nuh Al-Jami’ Al-Marwadzi, seorang yang menurut Adz-Dzahabi memiliki segudang ilmu; namun sayangnya haditsnya ditinggalkan orang.

Lebih lanjut Adz-Dzahabi mengatakan :

فكم من امام في فن مقصر عن غيره كسيبويه مثلا امام في النحو ولا يدري ما الحديث ووكيع امام في الحديث ولا يعرف العربية وكأبي نواس راس في الشعر عري من غيره وعبد الرحمن بن مهدي امام في الحديث لا يدري ما الطب قط وكمحمد بن الحسن راس في الفقه ولا يدري ما القراءات وكحفص امام في القراءة تالف في الحديث وللحروب رجال يعرفون بها

”Berapa banyak ulama yang menjadi imam dalam bidang ilmu tertentu namun tidak pada yang lainnya. Seperti halnya Sibawaih, imam dalam ilmu nahwu, namun ia tidak mengerti apa itu hadits. Waki’, imam di bidang hadits, namun ia tidak mengetahui bahasa Arab. Abu Nawas, seorang yang lihai di bidang sya’ir, namun nihil di bidang lainnya. ’Abdurrahman bin Mahdi, seorang imam dalam ilmu hadits, namun tidak mengetahui ilmu kedokteran. Muhammad bin Al-Hasan, seorang imam dalam ilmu fiqh, namun tidak mengerti ilmu qira’at. Hafsh, seorang imam dalam ilmu qira’at, namun tidak memiliki andil dalam ilmu hadits. Intinya, masing-masing medan keilmuan memiliki tokoh-tokoh yang mengerti akan medan tersebut…”.

Ada sebagian ulama yang berpandangan bahwa banyaknya sanad/jalur periwayatan dapat mengangkat suatu hadits mencapai tingkatan tertentu yang dapat dijadikan hujjah. Kaidah ini pada prinsipnya benar, namun tidaklah berlaku mutlak, karena ada beberapa hadits yang jika dikumpulkan semua jalannya tetap tidak akan mengangkat derajat hadits tersebut sedikitpun. Tidak lain akibat terlalu parahnya status kedla’ifannya. Dan hadits yang dalam sanadnya terdapat perawi yang berstatus matruk, dicurigai melakukan kedustaan (muttaham bil-kidzb), atau pendusta (kadzdzaab); maka ia tidaklah bisa terangkat dengan banyaknya jalur periwayatan.

Terlalu gampang dalam menghukumi hadits-hadits yang tidak berkaitan dengan hukum. Terutama mereka yang berlebihan dalam membela pendapat dapat digunakannya hadits dla’if pada perkara keutamaan amal (fadlaailul-a’mal) tanpa memperhatikan beberapa syarat yang telah ditetapkan para ulama. Hingga ada beberapa ulama yang memasukkan hadits-hadits palsu ke dalam katagori ini.

Itulah tujuh sebab yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh ’Abdul-’Aziz bin Muhammad As-Sadhan hafidhahullah. Semoga ada manfaatnya. Walhamdulillahi rabbil-’aalamiin.

Abu Al-Jauzaa’

Catatan kaki :

[1] Lisaanul-Miizaan, 3/75.

[2] Ar-Radd ‘alal-Bakri, halaman 19.
[3] Al-Majruhiin, halaman 208.

About these ads

One comment on “HADITS DHA’IF (LEMAH) & MAUDHU’ (PALSU); PENJELASAN & CONTOH-CONTOHNYA

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: